“Gimana ini? Masa kita gak ada yang tampil?”, salah seorang teman mengusulkan.
”Yauda, kita gak dihukum kan kalo gak tampil?”, seorang lagi menyahut dengan usulan yang lain.
”Tapi ini tuh Cuma setahun sekali. Gak asik banget tau!”, teman di sebelahku tidak terima atas usulan yang lainnya
”Gimana kalo akustikan? Tapi siapa ya yang mau nyanyi?”, usulan yang bagus.
Semua diam, memikirkan apa yang sepatutnya kita lakukan saat itu. Malam itu sangat dingin, gelap karena di pantai tidak ada penerangan yang layak. Suara deburan ombak yang biasa mengalun indah, kini terdengar begitu mencekam dan ganas. Api unggun di tengah-tengah lingkaran dimana kita berkumpul hanya sedikit memberi kehangatannya.
”kamu aja yang main gitar!”, usul salah seorang sambil menunjuk Dani. Dani adalah lelaki yang lumayan ’good looking’ di kelas kami, kemahirannya bermain gitar sudah tidak perlu diragukan lagi. Sebuah usulan yang bagus dan sekaligus membuat Dani terperangah kaget.
”Weh, gak bisa gitu dong! Malu lah aku”, protesnya pada usul yang membuat semua pandangan anak sekelas tertuju padanya. Dia pasti bisa merasakan bahwa kita sangat berharap padanya.
”Ayolah. Kamu kan ganteng, pasti entar banyak yang suka ama teman sekelas kita”, kami hanya bisa memohon hingga akhirnya sebuah kata pencerahan keluar darinya.
”Iya deh, tapi aku gak mau sendirian”, kata si Ganteng
Ganteng, iya sih emang. Uda banyak kok yang mengakui kalo dia ganteng. Dulu aja, pernah kelas kita rame banget dikerumunin berpuluh kaka kelas [tentu kakak kelas cewek] buat minta foto bareng sama Dani. Sumpah, gak elit banget. Untung aja kita sebagai temen kelasnya gak mata duitan. Kalo iya, uda pasti kita bakal memampang poster yang bertuliskan : ”Foto bareng Dani = Rp 5000 per foto”. Uda berasa kayak artis aja tuh anak. Btw, lanjut ke cerita awal ya... hohoho
”aku mau deh, tapi sama Romi ya”, kata Yuni sambil menyeret Romi ke sampingnya untuk diajak tampil bareng. Wajah Romi saat itu benar-benar mengekspresikan kekagetan yang sangat.
”Aku? Gak salah ni?”, tanya Romi dengan gaya khasnya yang lemah lembut. Sebenernya suara Romi lumayan, sih. Jangan salah, Romi itu adalah penyanyi keroncong yang hebat lho! Hehe lagi-lagi promosiin temen sekelas.
”Iya wes, gapapa. Kita nyanyiin lagunya ’Geisha’ [salah satu nama band yang lagi hits saat itu] gimana?”, tanya Yuni
”Gimana ya? Iya deh, demi kalian!”, jawabnya pasrah
”Horee!”, sorak semua girang kecuali tiga anak yang menjadi tumbal memasang wajah pasrah.
Akhirnya lagu sudah dipilih, perwakilan kelas juga uda, sekarang bagi kami yang gak tampil bisa bersantai menikmati penampilan kelas lain dan menunggu penampilan kelas kita.
Suasana semakin sepi, dan malam juga semakin larut. Ada sesuatu yang mengejutkan begitu kami tiba-tiba mendengar suara teriakan orang yang semakin lama semakin banyak yang berteriak. Suasana menjadi semakin menegangkan ketika salah seorang guru naik ke atas panggung dan memberi pengumuman.
”Anak-anak, pensi hari ini cukup sampai di sini dulu .... bla .... bla .... bla .....”
”He, maksudnya? Kelas kita kan belom tampil?”, salah seorang dari kami protes.
Tempat duduk kita memang lumayan jauh dari panggung dan tempat panitia, jadi kita gak begitu paham apa yang sedang terjadi. Tiba-tiba suasana menjadi mencekam, apalagi setelah teman yang duduk di sebelahku berkata
”kenapa nih, gempa ya? Apa ada tsunami?”, pernyataan yang semakin membuat tegang dan kita kembali diam dan mendengarkan lanjutan pengumuman dari Bu Guru
”Mari kita berdoa bersama demi keselamatan kita. Dan setelah berdoa bersama, semua kembali ke tenda dan kegiatan kita akhiri. Berdoa mulai”, suara Bu Guru semakin membuat penasaran dan ketakutan.
Di tengah-tengah waktu berdoa, tiba-tiba suara teriakan seperti : ”Huaaah .... huaahhh... aku gak suka kalian di sini”, semakin terdengar aneh. Hingga semakin banyak seperti itu.
”Mak, aku takut banget nih!”, ucapku sambil menggenggam erat tangan sahabatku dan berdoa apapun yang aku bisa. Malam itu sudah hampir pukul 12 malam, dan kita berada jauh dari tenda, di sebelah laut lepas dan tidak ada penerangan sedikitpun. Tidak ada jaringan telpon seluler apapun di lokasi kegiatan sekolah kami saat itu, jadi kemungkinan untuk menghubungi keluarga di rumah tidak ada sedikitpun.
”Aduh, aku takut banget sumpah. Kok semua pada lari-lari sih?”, tanya sahabatku tanpa melepaskan gandengan tangan kami.
”Ayo ayo cepat balik ke tenda! Baca surat yasin [doa dalam agama Islam untuk memohon perlindungan dari makhluk gaib], jangan banyak omong! Semua cepat baca doa”, panitia sibuk menginformasikan kepada semua siswa yang sedang kebingungan dan ketakutan.
Kami hanya berdoa, terus berjalan dan tidak melakukan apapun lagi kecuali apa yang telah diperintahkan pada kami. Di tengah-tengah perjalanan jauh menuju tenda putri tempat kami berkemah, aku menyadari bahwa itu pertama kalinya aku melihat langsung dan ada di saat banyak orang yang kesurupan [saat tubuh seseorang dipengaruhi oleh arwah gaib]. Dan itu sangat menyeramkan, apalagi di tempat asing tanpa akses kemanapun dan sudah sangat malam. Suara ombak dan teriakan-teriakan mereka yang kesurupan itu semakin membuatku ketakutan.
Setelah hampir 5 menit berjalan, aku sampai di tenda dan langsung masuk ke dalamnya. Karena sangat ketakutana, aku sampai tidak menyadari bahwa teman yang aku gandeng di tempat pensi dan saat ini di tenda adalah orang yang berbeda. Hal itu mungkin saja terjadi, karena semua kebingungan. Sesampainya di tenda, hal yang langsung kami lakukan adalah berdoa dan tidur.
Hari itu adalah malam kedua kami berkemah di pantai itu. Malam sebelumnya tidak ada yang aneh dan ganjil. Dan setelah malam itu, banyak kejadian aneh yang terjadi kepada kami. Entah hanya kebetulah semata atau ada sesuatu di baliknya.
Keesokan harinya saat siang yang terik di pantai, aku bersama teman-teman yang lain memutuskan untuk tidur siang di tenda. Tapi kami tidak tahan dengan panas yang menyengat. Sehingga kami memutuskan tidur siang di bawah sebuah pohon besar yang rindang di luar garis batas tenda. Kami sekaan mengabaikan saja batas yang ada.
”Eh, tidurnya hadap-hadapan aja ya biar tempatnya cukup”, intruksi seseorang sambil kita menggelar tikar untuk alas tidur.
”OK, agak merapat gapapa ya. Biar semua kebagian tikarnya”
Selesai mengatur posisi kita tidur berhadap-hadapan dan sangan merapat karena tikarnya tidak terlalu luas. Sangat menyenangkan mendapatkan tempat yang rindang untuk tidur siang, walaupun sedikit melanggar peraturan. Kita memang menerobos batas tenda, tapi ini demi kenyamanan tidur siang kita. Hohoho
Saat kita terbangun, ada seseorang teman yang merasa kebingungan.
”Kok, posisiku berubah ya? Kalian sadar gak sih? Tadi kan aku tidurnya gak hadap pohon, tapi membelakangi pohon?”, tanya Tiara kebingungan dengan gayanya yang masih belum sadar 100% dari tidurnya.
”Masa iya? Tapi kalo kamu tidurnya muter, otomatis aku kebangun dong! Ga mungkin ah!”, kata teman di sebelah Tiara.
”Iya, gak mungkin. Aku juga gak ngerasa kamu senggol kok, kamu masih ngantuk paling”, kata teman di sisi lain Tiara.
”Tapi, aku juga ingetnya tadi Tia posisinya emang gak kayak gitu!”, kata teman yang lain.
”tuh, kan? Bener gak sih?”, kata Tiara
”Ih, horor kalian. Uda deh, ayo mandi uda sore!”, kata teman yang lain berusaha menetralkan susana.
Begitulah keanehan yang terjadi di antara tidur siang kita. Dan keesokan harinya, saat kami akan packing mau pulang, seorang kakak kelas kembali kesurupan. Kakak kelas itu marah-marah membawa senjata tajam, ngomong ngelantur dan berlari menuju tenda putri tempat kita berkemah.
Seluruh siswa putri dalam tenda yang sedang packing, praktis berhambur keluar membawa barang-barangnya. Beberapa panitia langsung berusaha menenangkan dan mendoakan kakak kelas itu.
Sungguh menegangkan. Bahkan saat di perjalanan pulang, ada sebuah kendaraan kita yang mengalami kecelakaan. Begitu banyak keganjilan dan keanehan yang kita alami setelah kejadian malam itu di pantai. Saat kami sudah mulai melakukan perjalanan seperti biasa di sekolahpun, masih banyak siswa yang pingsan karena kesurupun. Benar-benar pengalaman yang tidak pernah akan terlupakan bagi semua yang mengikuti kegiatan studi banding saat itu.
I Am Me
-
*"Ah kamu mana bisa"*
*"Kamu itu ada-ada aja"*
*"Ngapain?"*
These are the daily words I grew up with. Discouraging. Belittling.
Dismissive.
I have alw...
1 minggu yang lalu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar