Minggu, 06 Maret 2011

My little best friend

Aku mau cerita gimana aku ketemu Cipi dan melewati enam tahun berharga bersamanya dan akhirnya ditinggal pergi olehnya. Aku menggunakan beberapa nama yang disamarkan demi kepentingan banyak pihak. Aku tidak akan menggambarkan cerita ini dengan bahasa yang berbelit-belit, hanya ingin membuat pembaca memahami apa yang aku alami. Yang terpenting aku sayang dia.

Jadi waktu itu hari pertama aku sekolah di SDN III. Pertama kalinya SD aku enggak ditungguin lho, Papaku Cuma nganterin terus langsung berangkat kerja. Waktu itu aku masih cupu banget masih belom tahu cowo ganteng, hoho. Itu kedua kalinya aku masuk ke sekolah itu, yang pertama pas daftar dulu. Oiya, aku adalah siswa terakhir yang diterima di sekolah itu. Bangga deh, rasanya.
Kelasku paling ujung koridor. Di depan kelasku ada taman kecil yang dipenuhi bunga mawar merah. Tapi, sayang banget keindahan mawarnya sementara tertutupi kerumunan ibu-ibu yang berjejal mengintai gerak-gerik anaknya. Kayaknya cuma orang tuaku yang gak ada. Masuk kelas aku langsung dapat pemandangan aneh, ada ibu-ibu gendut banget lagi nenangin anak kembarnya yang lagi nangis. Cowo kembar, tapi mereka gak mau ditinggal keluar ibunya. Plis, masa mamanya ikut belajar membaca dan menulis, hoho.
Sepanjang pelajaran mataku berkeliaran memandang satu-persatu calon teman-teman baruku. Aku duduk sebangku dengan anak temen papa. Kita kenalan juga.
”Halo. Aku Vita, kamu siapa?”, dia mengajakku berkenalan.
”Halo, aku Cyndhi.”, ya begitulah pokoknya saling memeberitahu nama masing-masing dan tidak banyak pembicaraan di hari pertama itu.
Istirahatpun dimulai.
Aku berdiri sendiri di depan taman mawar kecil itu. Vita punya saudara di kelas sebelah, namanya Yoga. Jadi sepanjang waktu istirahat dia maen sama Yoga. Yoga sekolah di SDN Kebonsari II, gedung berbeda tapi satu lokasi dengan sekolahku.
Aku gak tahan banget liat mawar cantik-cantik di depanku. Tanganku uda pengen metik aja. Aku gak sadar kalo dari tadi ada yang ngeliatin aku, kayaknya sih temen sekelasku. Sepertinya dia pengen metik mawar itu juga, tapi dia kayak gak berani gitu, -sok tahu-.
”ini, buat kamu. Namamu siapa? Aku Cyndhi.”, ajakku berkenalan sambil menyodorkan mawar yang baru saja aku petik.
” Cipi, makasih yaa.”, dia mengambil bunganya dan duduk di sebelahku.
Begitulah awal mula aku mengenalnya, dia cantik gak seperti aku. Dia memang bukan teman pertamaku, bukan teman spesial untuk saat itu.
Keesokan harinya, aku memutuskan itu hari terakhir aku duduk dengan Vita.
Penyebabnya adalah .... begini, aku akan mencoba menceritakan sesopan mungkin.
Aku masih sangat ingat, waktu itu pelajaran Matematika bersama Bu Ana. Di tengah-tengah pelajaran, aku merasa menginjak sesuatu di bawah. Ujung sepatuku terasa basah. Saat menoleh ke teman sebelahku yang tidak lain adalah Vita, wajahnya pucat. Tapi aku mengabaikan saja dia. Dan saat pensilku jatuh dan aku menoleh ke bawah, Jeng jeng ....
” Vita, kamu ngompol ya?”, tanyaku tanpa mengecilkan suaraku sedikitpun. Sontak seisi ruang kelas mengarahkan pandangannya pada kami. Teman sebangkuku itu hanya diam dan menurut saja saat ibu guru menyuruhnya keluar kelas [bukan untuk dihukum] dan berdiri di depan pintu. Gak lama ibunya Vita dateng ngomel-ngomel dan membawa anaknya pulang saat itu juga.
Aku masih shock karena tentu saja sepatuku basah karena menginjak hal itu ’ompol teman sebangku’. Sangat menjijikkan, aku berencana tidak mau duduk dengannya lagi dan benar saja aku duduk dengan teman baruku, Cipi.
Aku banyak bercerita dengannya, dan tahu banyak hal tentangnya. Ternyata rumahnya tidak jauh dari sekolah. Gang rumahnya tepat di seberang sekolahku. Hari itu aku mampir ke rumahnya. Tentu aku membuat bingung papaku karena saat dijemput, papa tidak menemukanku di sekolah. Setelah puas mampir di rumah Cipi, aku kembali ke sekolah untuk menunggu Papa. Sekolah sudah sepi dan semakin lama semakin sepi. Saat itu, anak sekolah belum mengenal ponsel, jadi aku pergi ke kantor kepsek, tahu buat apa ? meminjam telpon sekolah.
”Ibu, saya belum dijemput, boleh gak saya telpon ke rumah pake telpon itu ?”, mintaku sambil menunjuk telpon yang ada di ujung ruang kepala sekolah itu
Tentu saja aku tahu kepsek-ku mengiyakan, dan tidak berapa lama setelah itu papa datang dengan wajah garang menjemputku. Aku bercerita punya teman baru yang cantik dan pergi ke rumahnya, begitu sepanjang perjalanan pulang. Hari yang indah, itu pertama kalinya aku pergi ke rumah temenku, sendiri gak ditemenin ortu, jadi berasa kayak anak gede, hoho.
Waktu aku masih SD, sistem kurikulumnya masih caturwulan, jadi setelah empat bulan bersekolah, itulah kali pertamanya aku menerima rapot dan itu adalah rapot yang luar biasa.

Semua undangan sudah dibagikan, hari itu jadwal pengambilan rapot oleh orang tua siswa akan dimulai pukul 10 pagi. Sudah lebih sepuluh menit dari jadwalnya, papaku belum datang. Aku sangat cemas karena bukan saja orangtua teman-teman sudah datang dan orangtuaku belum, itu rapot pertamaku. Aku menunggu di gerbang, tentu saja ditemani teman baikku, Cipi
Karena terlampau khawatir, aku memutuskan pergi menjemput papaku di kantornya. Aku sangat menyadarinya –baru-baru ini- bahwa itu adalah keputusan yang bodoh.
”kamu tunggu disini ya, aku mau ke kantor papaku”
”aku ikut, aku gak ada temennya disini”, jawabnya yang sudah kuduga
”tapi aku gak punya uang buat naek kendaraan, aku mau jalan”, aku sudah putus asa dan nekat kali itu.
”gakpapa, aku ikut”, dia selalu baik padaku, orang yang empat bulan ini selalu bersamaku.
Kami berdua berjalan dengan langkah cepat menuju kantor papaku. Memang tidak terlalu jauh, dari rumahku hanya sekitar 300m, tapi jarak sekolah ke rumahku sekitar 700m. Jadi kesimpulannya, kami berdua harus melewati 1km hanya demi sebuah rapot pertamaku. Penuh perjuangan memang, dan aku seperti membawa kabur anak orang saja. Cipi anak bungsu dari tiga bersaudara, kakaknya yang pertama bekerja di Malaysia dan yang kedua tinggal di rumah ibu bapaknya. Karena anak bungsu, dia juga kesayangan. Mungkin nanti ibunya akan cemas bila kami tidak segera kembali ke sekolah.
Sampai di kantor, ruangan papaku kosong. Ada seorang temannya menghampiri kami.
”Cari siapa dek?”, tanya orang itu ramah pada kami
”Papaku ada gak om? Yang kerja di ruang ini?”, tanyaku menganggap orang itu tahu aku anak orang yang sedang aku cari ini.
”Oh, baru saja pergi ke sekolah”, jawaban yang membawa dua kabar bagi kami.
Kabar baik bahwa rapot pertamaku positif terambil, tapi apa kabar usaha kami berdua berjalan panas-panas sejauh ini menuju kantor dan orang yang kami cari sudah pergi. Dan aku sungguh tidak berharap kembali ke sekolah dengan cara yang sama lagi, berjalan kaki.
”Aduh, gimana ini? Kamu cape ga?”, pertanyaan yang juga sekaligus ingin kutujukan pada diriku sendiri
“Enggak kok, gapapa”, teman baikku itu membohong, tapi wajah letih dan keringatnya tidak bisa bersembunyi saat dia menjawab pertanyaanku.
“Gimana kalo kita ke rumahku?”, itu adalah satu lagi ide gilaku. Mengajak anak orang kembali berjalan jauh tanpa memikirkan keselamatannya. Kalau aku jadi dia, aku akan menangis minta pulang karen uda gak tahan punya temen gila sepertiku. Hoho
”Iya deh, gapapa”, sekali lagi dia menurut padaku.
Kantor papaku tidak jauh dari rumahku, aku sering ke sana. Tapi baru kali itu aku berjalan kaki dari kantor papa ke rumahku. Kami hanya perlu 15menit untuk tiba di rumahku. Sesampainya di rumah, kami hanya minum sebentar, membuat heran mamaku, dan kembali lagi ke sekolah dengan cara yang sama, yap berjalan lagi.
Mamaku tidak banyak tanya, karena dia sedang repot mempersiapkan sebuah acara –aku gak tahu acara apa- untuk sore nanti. Sejam kemudian, kami sampai di sekolah. Sebelumnya, aku sudah membayangkan saat ini pasti ibunya sedang menangis mencari anaknya dan bertanya pada satpam.
”Pak, dimana anakku?”
Pak satpampun menjawab,”Sabar bu, anak ibu dibawa kabur anak Bapak itu”. Jawab Pak satpam dengan polos dan menunjukkan jarinya ke hadapan Papaku
Papaku pun memasang muka tidak tahu apa-apanya dan berkata,”Maaf bu, maafkan anak saya. Kita berdoa saja yang terbaik untuk anak kita, kita tunggu sebentar, saya akan bertanggung jawab.
Dan ibu Cipi tetap menangis merenungi nasib anaknya yang berteman denganku.
Benar saja, setibanya di sekolah, pemandangan pertama yang kulihat adalah seorang ibu berambut keriting dan berkacamata sedang duduk di trotoar jalan sambil menangis dan itu adalah ibu temanku yang aku culik sementara. Dan di sampingnya, aku melihat Bapak-bapak dengan seragam kantor yang baru saja kami datangi sedang menatapku marah. Cipi sontak berlari memeluk dan menenangkan ibunya, Papaku segera menjewer telingaku dan mengajakku pulang setelah memintaku untuk minta maaf telah mencemaskan wanita itu.
Ya, begitulah rapot pertamaku dan kisah konyol membuat cemas ibu temanku. Tapi, hari itu semakin mengakrabkan kami. Aku juga tidak sungkan untuk tetap berkunjung ke rumahnya sepulang sekolah. Tidak hanya itu, bahkan setiap pagi aku diantar sekolahnya ke rumah Cipi
Aku menunggunya bersiap dan kami berdua berangkat sekolah bersama. Hampir setiap hari juga, aku menunggu jemputan dan makan siang di rumah itu. Seperti keluarga sendiri, aku juga akrab dengan tetangganya. Aku bahagia berteman dengannya dan keluarganya.
Waktu itu, kami juga sempat membeli tas yang kembar. Tas yang populer saat itu adalah tas koper bergambar kartun, tasku warna merah dan tasnya warna pink. Dia adalah anak yang baik dan sampai kami bertemu dua orang teman. Sebenarnya mereka teman sekelas kita, tapi baru saja akrab dengan kami. Mala dan fani. Semenjak saat itu kita berempat, dan aku jadi jarang berdua dengan sahabat pertamaku itu.
Hingga suatu hari, Cipi berubah. Dia sedikit menjauh dariku, saat itu kalau aku tidak salah mengingat kami kelas 4. Aku merasa cemburu Cipi
bermain bersama teman barunya. Sampai aku merasa aku bukan satu-satunya lagi yang bisa tertawa bersamanya. Hubungan kami merenggang, dan aku benci itu.
Tapi pada akhirnya kami dipersatukan lagi, kelas 5 kami kembali duduk sebangku. Mala berbeda kelas dengan kami, aku merasa tenang saat itu. Di belakang kami, ada 2 anak laki-laki bernama Dion dan satu lagi kami panggil ’Gojali’ dan kami usil padanya. Pernah suatu ketika kami merusak bukunya, merobeknya menjadi dua bagian. Itu buku matematika, aku berebut dengan Cipi dan tanpa sengaja bukunya terbagi menjadi dua. Kami mencorat-coret kotak pensilnya, kami bahkan menciptakan sebuah lagu untuknya. Begini ...
Li ... Li ... Gojali ... weleek [bahasa jawa yang artinya jelek]
Li ... Li ... Gojali ... mbambeees [sebutan dalam bahasa jawa yang artinya jelek]
Dan tertawa setelah menyanyikan lagu sederhana ciptaan kita. Gojali tidak pernah marah pada kami, dia bahkan menerima dengan senang hati kenakalan kami. Aku memang nakal, mungkin aku juga menularkan sifat itu pada sahabatku itu.
Enam tahun bersamanya berlalu dengan cepat. Hingga saat kelulusanpun tiba. Kami tidak satu sekolah lagi, aku bersekolah di sebuah SMP Negeri dan dia di SMP Swasta. Aku sangat menyayangkan hal itu. Cipi telat untuk mendaftar dan karena kehabisan formulir, dia harus menerima kenyataan harus bersekolah di sekolah yang biasa saja. Sebuah sekolah islam yang mengharuskannya berkerudung dan sekelas dengan puluhan anak dan masuk siang.
Saat acara pelepasan siswa [acara perpisahan] adalah saat terakhir aku bertemu dengannya. Aku masih sempat pergi ke rumahnya saat lebaran, tapi itu hanya sesekali. Pertengahan tahun pertama di SMP, aku mendapat kabar ayahnya meninggal dunia karena sakit. Mamaku masih sempat datang ke rumahnya, dan karena kesibukan sekolahku, aku hanya bisa menitipkan salam padanya.
Aku harusnya pergi menengoknya, aku tahu itu berat bagi sahabatku. Dia dan ayahnya sungguh tak terpisahkan, bagaimana mungkin aku tidak ada sisinya saat itu. Aku bukan teman yang baik, aku tahu itu. Aku selalu mencoba meluangkan waktu untuk menengoknya, tapi tidak bisa juga.
Setahun setelah itu aku semakin tidak pernah mendengar kabarnya. Aku sempat menyimpan nomor ponselnya tapi sudah tidak aktif. Seharusnya aku masih bisa berkunjung ke rumahnya kalau saja aku tidak terbebani rasa sungkan. Dua tahun berlalu hingga waktu yang mengejutkanku itu dimulai dari saat sore hari pada waktu bimbel.
Aku sekelas bimbel dengan Maya, dia teman SDku juga dulu. Dan rumahnya tidak jauh dari rumah Cipi, dia mendapat kabar dari temannya. Kabar yang mengejutkan.
”Cyn, Cipi sekarang lagi sakit?”, kabar yang membuat aku tidak berkonsentrasi bimbel saat itu. Aku ingat sekali saat itu aku shock mendengarnya.
”Sakit apa, May?”
”Aku gak tahu juga, tapi uda berbulan-bulan dia di RS dan gak sekolah. Kata temenku dia kurus banget, kakinya mengalami pembengkakan karena pembekuan darah. Kasian dia, paling minggu ini aku mau jenguk dia.”, penjelasan itu semakin membuatku bergetar ketakutan.
Beberapa hari setelah berita itu, aku menceritakan ini pada mamaku. Aku dengar, Maya sudah menjenguknya dan ketakutan melihat keadaan temanku itu.
”Ma, cipi sakit keras. Besok jengukin dia ya”.
Keesokan harinya, aku tidak ada satu firasat apapun. Aku berangkat sekolah dengan jasa bus sekolah, sudah tiga tahun sejak SMP. Setelah aku menemukan tempat duduk dan menunggu keberangkatan bus, saat itu seorang teman mendekatiku dan berbisik.
”Cyn, kemaren aku disms Maya. Cipi uda gak ada, sabar ya.”, kata-kata macam apa itu? Aku hanya terdiam
Bagaimana mungkin aku mempercayai kalimat itu? Bagaimana mungkin aku yang hari itu berencana menjenguknya dia sudah tiada? Bagaimana mungkin aku kehilangan sahabat kecilku itu?
Aku menangis sejadi-jadinya. Karena hanya itu yang bisa kulakukan, hanya itu. Sepanjang perjalanan, hingga sampai di sekolah, hingga pelajaran, sampai akhirnya pulang sekolah, aku tetap menangisi kepergiannya. Hari itu hari Jumat, aku masih sangat mengingatnya. Aku masih tetap tidak mempercayainya, sampai aku tida di rumahnya.
Rumah itu masih sama, tidak ada yang berubah kecuali banyak orang di sana. Aku dengan ketidakpercayaanku itu mulai memasuki rumah kenanganku itu. Aku melihat wajah Mala dan Fani yang menangis, dan wajah lain. Hingga pandanganku tertuju pada seorang wanita yang aku kenali. Wanita itu berkerudung , tapi aku masih bisa mengenalinya. Untuk kedua kalinya aku melihatnya menangis. Dulu pertama kali dia menangis karena anaknya pergi bersamaku saat dia mengambil rapot pertama anaknya. Kali ini aku melihat dia menangis saat aku menghampirinya. Aku duduk di sampingnya. Dia berbisik padaku
”Cyn, Cipi uda gak ada. Doakan ya, dia diterima di sisi-Nya”, aku mendengar dengan jelas kalimat itu.
Tanpa sadar aku sudah tidak bisa lagi menahan jatuhnya air mataku yang sudah sejak tadi pagi dan sekarang semakin menjadi. Aku menangis di pangkuannya untuk yang pertama kalinya. Aku juga bisa mendengar suara tangisan wanita yang mencoba terlihat tegar di hadapanku. Hampir satu jam aku menangis di pangkuan ibu sahabat kecilku yang baru saja pergi meninggalkan kami.
Setelah satu jam kami menangis bersama, aku mencoba menenangkan diri. Tapi tidak bisa saat aku melihat dua temanku menangis memelukku, mereka berdua sempat akrab dengan kami. Mereka juga kehilangan sahabatku ini.
Setelah hari itu, aku tidak pernah bisa berhenti menyalakan diriku sendiri. Bahkan, sampai aku memberanikan diri menulis kisahku bertemu dengan almarhumah, aku masih tetap merasa berdosa. Aku sahabat macam apa ? tidak ada di sisinya saat dia membutuhkanku. Tidak ada saat terakhir dia mengatakan pada ibunya dia ingin pulang. Dia berkata ingin pulang dari rumah sakit itu, tapi ibunya tidak pernah menyangka kalau dia akan pulang ke tempat peristirahatan terakhirnya. Pulang tanpa berpamitan padaku, sahabat masa kecilnya. Yang sangat menyayanginya, sampai saat ini dan selamanya. Semoga di sana, dia bahagia.
Aku akan selalu mengenang semua yang telah kita lewati bersama. Dari perjumpaan dan walaupun tidak ada salam perpisahan, aku akan tetap memberanikan diri mengenangmu. Sahabat terbaikku.


Begitulah aku mendapatkan hadiah besar dari Tuhan. Dan begitu pula cara Tuhan mengambil kembali dariku. Mungkin aku menyayanginya dengan banyak cinta kasih, tapi Tuhan lebih dariku dalam mencintainya. Aku yakin Tuhan sedang menjaganya, dan menjaga ayahnya di suatu tempat yang indah. Dan aku tetap bisa mengirimkan cinta padanya, mengirim doa padanya, pada sahabat kecilku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Daftar Blog Saya